Skip to content Skip to navigation

Diskusi Layanan Informasi Perpustakaan

Hari Buku se-dunia umumnya identik dengan perayaan yang menyatakan bahwa membaca itu penting dalam membangun kualitas kehidupan masyarakat. Perayaan ini pun lebih banyak membahas dunia penerbitan, akses terhadap bacaan, dan peningkatan minat baca masyarakat yang saat ini diidentikan dengan literasi. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perpustakaan.
 
Perpustakaan menjembatani masyarakat untuk mengakses bacaan-bacaan bermutu untuk peningkatan kualitas hidupnya. Perpustakan dapat menjadi mitra strategis masyarakat dalam menduskusikan hal-hal menarik yang berkaitan dengan pengetahuan yang menjadi perhatiannya. Perpustakaan menjadi pusat kebudayaan dari berbagai pemikiran dan pengetahuan yang berkembang di masyarakat penggunanya.
 
Namun dalam praktiknya, pengelola perpustakaan ternyata masih kesulitan dalam menerjemahkan peran strategis perpustakaan dalam bentuk layanan informasi yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik pemustakanya. Untuk itu, berbagi pengetahuan (knowledge sharing) menjadi suatu hal yang penting untuk dilakukan sehingga pengelola perpustakaan dapat saling berbagi hal yang baru untuk diimplementasikan di perpustakaan yang dikelolanya.
 
Sehubungan dengan itu, dalam rangka memperingati hari Buku Se-Dunia serta upaya memperkuat pemahaman para pengelola perpustakaan dalam peningkatan layanan informasi perpustakaan, Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) bekerja sama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) dan Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI) mengadakan “Diskusi Layanan Informasi Perpustakaan” yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (23/04).
 
Diskusi ini mengundang empat pembicara. Pembicara pertama adalah Luki Wijayanti. Staf pengajar Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia ini memaparkan bagaimana perilaku pemustaka ikut berdampak pada pengembangan perpustakaan ke depan. Tujuan pemustaka ke perpustakaan saat ini sangatlah beragam, tidak hanya meminjam buku saja. Oleh karena itu perpustakaan perlu menjadi growing organism yang selalu beradaptasi mengikuti perubahan yang terjadi baik di lembaga induknya maupun dari perilaku pemustaka.
 
Pembicara kedua adalah Maman Suherman. Pegiat literasi yang juga adalah seorang jurnalis ini memberikan gambaran mengenai harapan masyarakat terkait kontribusi pustakawan, sarjana ilmu perpustakaan, akademisi dan ilmuan perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi yang berkembang saat ini.
 
Wien Muldian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam paparannya menjelaskan ke depannya layanan perpustakaan akan dikembangkan oleh setiap partisipan dan komunitas yang peduli dengan perpustakaan. Tidak diarahkan hanya oleh pustakawan profesional.
 
Sedangkan Irhamni menyatakan bahwa pustakawan harus dapat berjejaring. Menurutnya dengan berjejaring diharapkan akan menciptakan inovasi dalam pelayanan perpustakaan. Peran organisasi profesi seperti ISIPII, FPPTI, atau FPKI pun penting untuk lebih ditingkatkan agar setiap anggotanya dapat menginspirasi satu sama lain. 
 
Untuk presentasi tiap pembicara dapat diunduh di sini.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.