Skip to content Skip to navigation

Laporan dan Materi Workshop Pengembangan Repositori dan Depositori Pengetahuan Indonesia Melalui Akses Internet Publik

Perpustakaan dapat menjadi motor untuk gerakan akses terbuka (open access) yang merupakan upaya untuk menumbuhkan penemuan-penemuan atau inovasi-inovasi baik di Indonesia dan dunia. "Saat ini keterbukaan akses informasi menjadi sesuatu yang penting karena hal ini akan mendorong munculnya penemuan–penemuan dan inovasi", demikian menurut Ismail Fahmi dari Indonesia OneSearch saat diskusi Pengembangan Repositori dan Depositori Pengetahuan Indonesia  Melalui Akses Internet Publik di Gedung BPPT Jakarta Pusat, Selasa (15/11/2016). Diskusi ini merupakan bagian dari Dialog Nasional Tata Kelola Internet Indonesia 2016.

Ismail Fahmi mencontohkan seorang remaja bernama Jack Andraka dari Amerika Serikat yang menciptakan alat pendeteksi kanker pankreas. Jack pada awalnya selalu terbentur masalah pembayaran saat melakukan riset pada repositori berbayar. Lalu ia mulai memanfaatkan Google untuk mencari artikel-artikel penelitian yang memiliki akses terbuka untuk mendukung risetnya.

Joko Santoso dari Perpustakaan Nasional menekankan bahwa internet sebagai penghubung ilmu pengetahuan yang berada pada individu dan lembaga harus dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan: pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, rekreasi pemustaka, pembangunan, pengembangan dan lainnya.

"Kata kuncinya antara lain keterjangkauan, kolaborasi, keberlanjutan, dan ketersediaan" menurut Joko Santoso. Karena itu komunikasi data antar institusi akan sangat menentukan dalam penyediaan pengetahuan. Kerjasama antar lembaga pemerintah, perpustakaan perguruan tinggi, media massa dan lembaga lain juga perlu diperkuat.

Perpustakaan Nasional sudah membangun depositori dan repositori sesuai dengan UU 40 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, dan UU 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Depositori Perpustakaan Nasional berupa penyediaan portal Katalog Induk Nasional yang berisi data koleksi di Perpustakaan seluruh Indonesia. Sedangkan untuk repositori, Perpustakaan Nasional sudah membentuk beberapa portal (Bibliografi Induk Nasional yang berisi data terbitan-terbitan di Indonesia; Film; Pustaka Presiden; Dokumen Sastra Indonesia; Kepustakaan Candi; Keraton Nusantara; Batavia Digital).

Sementara itu Nuning Kurniasih dari Universitas Padjajaran membahas tentang kebiasaan membaca di era digital. Responden minat baca pada Survey 2015 adalah 8 dari 10 orang Indonesia setiap hari membaca  melalui internet. Responden yang aktif di Internet prioritasnya membaca berita. "Tantangan terkini adalah bagaimana menyediakan informasi yang tidak monoton dan menarik untuk dibaca," menurut Nuning. Terlebih lagi dengan adanya smart devices.

Penyiapan literasi digital pada SDM penting diselenggarakan oleh berbagai pemangku kepentingan bekerja sama dengan perpustakaan. Perpustakaan Nasional dapat bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat agar dapat menyiapkan infrastruktur melalui penyediaan koneksi internet dan komputer personal untuk menghindari kesenjangan digital di Indonesia.

Sebelumnya ISIPII dan Perpustakaan Nasional juga sudah mengadakan diskusi pendahuluan tentang Tata Kelola Internet ini pada awal November lalu bertajuk Urun Rembug Pustakawan Dalam Tata Kelola Internet di Indonesia.

Catatan: untuk peserta yang membutuhkan sertifikat dari diskusi ini, silakan kirim biodatanya ke sekretariat@isipii.org untuk didata terlebih dahulu.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.