Skip to content Skip to navigation

Luwarsih Pringgoadisurjo : Pengusung Isu Kerja Sama Antar Perpustakaan

Luwarsih Pringgoadisurjo
Penulis: Elly Julia Basri
 
Luwarsih Pringgoadisurjo, MA lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal  14 Februari 1930 . Beliau wafat pada 04 Juli 1994 di usia 64 tahun. Beliau adalah Direktur PDIN (Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional, LIPI yang kedua yang memimpin lembaga tersebut dari 1973 sampai 1989. Direktur pertama PDIN adalah Winarti Partaningrat yang memimpin PDIN dari tahun 1965 sampai tahun 1973.
 
Winarti Partaningrat MA dilantik pada tanggal 31 Juli 1965 bersamaan dengan peresmian lembaga PDIN, yang resmi berkantor di Jalan Raden Saleh 43. Serah terima kepemimpinan PDIN dari Winarti Partaningrat kepada Luwarsih Pringgoadisurjo dilaksanakan pada 5 Maret 1973.
 
Dalam kepemimpinan Luwarsih Pringgoadisurjo, kegiatan PDIN (Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional) berkembang pesat.  Jaringan kerjanya tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan ASIA dan internasional. 
 
Pada 1986 LIPI melakukan reorganisasi dan nama semua unit eselon II di LIPI tidak lagi menyandang  nama “nasional” termasuk juga PDIN. Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional berubah  menjadi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah  (Sudarsono 2017)
 
Dalam karirnya sebagai pegawai negeri, Luwarsih Pringgoadisurjo adalah sedikit dari pustakawan Indonesia yang meraih anugerah Bintang Jasa Nararya dari Presiden RI pada tahun 1981. Penghargaan lain yang diraih Luwarsih dari pemerintah  yaitu Satya Lencana Karya Satya Kelas II pada tahun 1983.
 
Luwarsih Pringgoadisurjo menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1956. Gelar M.A  (Master of Arts) dalam bidang perpustakaan diraihnya dari Library School, George Peabody College for Teachers, Nashville, Tennessee, USA pada tahun 1960 dengan beasiswa dari Ford Foundation.
 
Karir
 
Setelah menamatkan Sarjana Muda di Fakultas Sastra UI tahun 1956, Luwarsih bekerja paruh waktu di Bagian Dokumentasi MIPI (Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia).  MIPI berganti nama menjasi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada tahun 1965.  Luwarsih menjadi staf Bagian Dokumentasi MIPI sejak tahun 1959 dan pada tanggal 21 April 1959  Luwarsih dilantik sebagai Sekertaris Panitia Dokumentasi. Pembentukan panitia ini merupakan langkah pertama untuk merealisasikan salah satu rencana MIPI yaitu  membentuk pusat dokumentasi yang dapat memberi sumbangan besar kepada dunia ilmu pengetahuan Indonesia khususnya, dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Pembendukan pusat dokumentasi tersebut mendapat dukungan dari UNESCO dengan mendatangkan ahli dokumentasi. (Berita MIPI, No.2, Th III, Djuni 1959, hal 27).
 
Di awal karirnya bekerja di Bagian Dokumentasi MIPI, Luwarsih merasakan pekerjaannya banyak tantangan. “Sejak itu saya betul-betul merasakan pekerjaan perpustakaan mempunyai tantangan yang banyak,” menurutnya.
 
Setelah meraih gelar M.A di George Peabody College, Gainsville, Amerika Serikat pada tahun 1960, Luwarsih tidak langsung kembali ke tanah air. Dalam Riwayat Hidupnya, Luwarsih mencantumkan bahwa  ia memperoleh beasiswa selama satu tahun untuk  menambah pengalaman kerja praktik kerja di National Library of Agriculture (Washington), National Library of Medicine (Washington), Biological Abstract di Philadelphia University of Florida  dan Indian Scientific Documentation Center di New Delhi, India.  Ia baru kembali ke tanah air pada tahun 1961.
 
Sekembalinya ke tanah air,  Luwarsih diangkat sebagai wakil Kepala Bagian Dokumentasi MIPI.  Dan  sejak tahun 1965,  Luwarsih menjabat sebagai Asisten Direktur PDIN. Dalam masa kerja Asisten Direktur PDIN,  ia  mendapat kesempatan untuk  menjalani latihan kerja pada University of Cornell, Ithaca, New York, USA pada tahun 1968-1969.
 
Empat belas tahun sejak ia berkarya mulai dari karyawan Bagian Dokumentasi MIPI sampai dengan Asisten Direktur PDIN,  Luwarsih dipercaya untuk menjabat sebagai Direktur PDIN.   Masa baktinya sebagai direktur berlangsung mulai dari tahun 1973 sampai dengan 1989 (1973-1986 sebagai Direktur PDIN ; 1986-1989 Direktur PDII).
 
Dalam masa jabatan sebagai Direktur PDIN dan PDII,  Luwarsih merangkap tugas sebagai Manajer Pusat Informasi Wanita Dalam Pembangunan (PIWP) dari tahun 1979 sampai dengan tahun 1986.  Pada awal kegiatannya, PIWP adalah Proyek Dokumentasi Wanita dan Anak, program pembangunan yang oleh BAPPENAS  dipercayakan kepada PDIN untuk mengelolanya.  Kegiatan program ini ditujukan untuk  menunjang kegiatan Kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Kantor Menteri Muda Urusan Peranan Wanita (PDIN-LIPI.  Laporan Tahunan 1979-Maret 1980. Hal. 40;  PDIN-LIPI.  Laporan Tahunan April 1982-Maret 1983.  Hal. 4). Dalam perkembangannya Kantor Menteri Muda ini berganti nama, dan sejak tahun 2009 bernama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PP dan PA).  
 
Perhatian Luwarsih untuk mengembangkan perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo) Indonesia, tidak hanya terbatas pada masalah kebijakan perpustakaan di tingkat nasional, pengembangan sistem perpustakaan, dokumentasi dan informasi tetapi ia menaruh perhatian besar untuk mengembangkan pustakawan Indonesia, bukan hanya pustakawan di lingkungan PDIN atau LIPI.
 
Luwarsih sangat mengerti bahwa perpustakaan sebagai organisasi jasa bertumpu pada pengetahuan dan keterampilan para pustakawan dan kegiatan pelayanan kepada pemustaka, untuk itu pengetahuan dan keterampilan pustakawan Indonesia perlu ditingkatkan.  Upaya Luwarsih untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman kerja lapangan pustakawan Indonesia, baik itu di luar negeri maupun praktek kerja di PDIN-LIPI,  yang terekam dalam Laporan Tahunan PDIN  dari tahun 1975 sampai dengan 1985 sebagai berikut:
  • Penerima Grant untuk  Program Master,  Non-degree, atau Pelatihan  Ilmu Perpustakaan Luar Negeri  yang Berasal dari Luar PDIN/PDII-LIPI. Sumber: Laporan Tahunan PDIN(PDII)-LIPI, 1975-1985.

Dari tahun  1978 sampai dengan 1982 tercatat  PDIN/PDII mengupayakan grant bagi 17 orang pustakawan, dari luar PDIN/PDII, untuk menjalani program master, pelatihan (tanpa gelar) atau pelatihan tentang ilmu perpustakaan di luar negeri, yaitu: 

1. Tahun 1978:    5 orang
2. Tahun 1979:    1 orang
3. Tahun 1980:    2 orang
4. Tahun 1980:    2 orang
5. Tahun 1982:    4 orang
6. Tidak tercantum tahun keberangkatan:  3 orang.
Informasi lengkap tentang penerima grant ini dapat dilihat pada Lampiran
  • Praktek kerja di PDIN
Selain mengupayakan pengembangan keterampilan profesional dan pengetahuan pustakawan Indonesia di luar negeri, di masa kepemimpinan Luwarsir,  PDIN menerima pustakawan dan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan untuk praktek kerja di PDIN/PDII.  Laporan Tahunan PDIN/PDII dari tahun 1976-1985 mencatat sejumlah 76 orang pustakawan/mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan melakukan praktek kerja di PDII/PDIN:
1. Tahun 1976                         :    7 orang
2. Tahun 1977                         :    6 orang
3. Tahun 1978                         :    7 orang
4. Tahun 1979                         :  11 orang
5. Tahun 1980                         :    8 orang
6. Tahun 1981                         : 10 orang
7. Tahun 1982                         :   7 orang
8. Tahun 1983                         :   8 orang
9. Tahun 1984                         :   5 orang
10. Tahun 1985                       :   6 orang
11. Tidak diketahui waktunya:   3 orang
 
Mereka  yang kerja praktek di PDIN/PDII berasal dari berbagai lembaga di Indonesia.  Informasi rinci tentang praktek kerja tersebut dapat dilihat di Lampiran. 
 
Karir Luwarsih tak terhenti sampai dengan jabatan direktur PDII.  Ia terus aktif bekerja di LIPI sebagai Fungsional Peneliti pada Pusat Penelitian Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI dari tahun 1990 sampai dengan 1994. Dan pada tahun 1992 Luwarsih berada di The Center of Southeast Asian Studies University of Kyoto sebagai visiting research scholar.
 
Kegiatan Profesional
 
Luwarsih Pringgoadisurjo adalah pustakawan yang aktif dalam kegiatan asosiasi pustakawan, proyek dan panitia konperensi.  Daftar Riwayat Hidup beliau mencatat kegiatan sebagai berikut:
  1. Ketua Ikatan Pustakwan Indonesia: 1973-1975
  2. Anggota Panitia Penasehat pada UNISIST/UNESCO: 1973-1975
  3. Ketua Proyek Standarisasi Pusdokinfo: 1974-1987l
  4. Anggota Nasional Konsorsium National Libraries Documentation Centers – Southeast Asia(NLDC/SEA):  1977
  5. Ketua 3rd Conference of Southeast Asian Librarians (CONSAL) di Jakarta:  1-5 Desember 1975
  6. Wakil Ketua II Panitia Program UNISIST (SK Ketua LIPI no. 3822/Kep.A.8/77 tgl 1 Juli 1977) 
  7. Excecutive Board 5th CONSAL  Unesco Post Grafuate Training ,University of the Philuppines:  1978-1985
  8. AnggotaTim Ahli KOWANI:  1988-1993
Di bidang konsultasi perpustakaan,  Luwarsih pun menunjukkan kepiawaiannya  yang terekam dari pengalamannya sebagai konsultan dalam projek nasional, regional dan internasional seperti:
  1. The ASEAN Secretariat Library: An Approach to Development 1984-1988
  2. Indonesia: Review to R & D in Science and Technologyof Information Issue of Important to National Development. 1986
  3. ILO Library Consultant: 1986
  4. The World Bank Consultant for Public and School Library: 1991
Karya
 
Luwarsih Pringgoadisuryo banyak menulis tentang bidang pusdokinfo.  Selain itu karya tulis beliau berupa fiksi, isu di bidang penulisan, penerbitan dan pendidikan perempuan.  Dalam Riwayat Hidup beliau, tercatat 90 judul karya tulis baik dalam bentuk makalah yang dipresentasikan dalam seminar/konperensi di Indonesia maupun mancanegara, artikel maupun ceramah.   Karya tulis Luwarsih Pringgoadisurjo yang terekam di pangkalan data WorldCat, Arsip PDII dan IOS (Indonesian One Search) berjumlah 65 judul.
 
Informasi rinci tentang judul dan topik dari karya tulis Luwarsih Pringgoadisurjo yang terekam di ketiga lokasi pangkalan data tersebut di atas dapat dilihat pada Lampiran 3
 
Topik yang menjadi minat dan kepedulian Luwarsih Pringgoadisurjo di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo) beragam, misalnya sistem jaringan pusdokinfo yang terintegrasi, pelayanan pusdokinfo yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat Indonesia, kerjasama antara pusat-pusat nasional, sistem nasional perpustakaan Indonesia,  kebijakan dan koordinasi pelayanan informasi di Indonesia, perpustakaan IPTEK dan lain-lain.
 
Luwarsih menaruh perhatian besar tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh dunia perpustakaan Indonesia dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Bila ditinjau dari sudut manajemen perpustakaan,  Luwarsih paham sekali bahwa sistem jaringan pusdokinfo Indonesia yang terintegrasi sangat diperlukan, dan perpustakaan di Indonesia, khususnya lembaga pemerintah menghadapi tantangan birokrasi yang tidak kecil.
 
Luwarsih mengharapkan terealisasinya penyediaan sumber informasi yang merata bagi semua lapisan masyarakat Indonesia secara merata. Walau pada periode beliau istilah “kolaborasi antar perpustakaan” belum populer, namun Luwarsih acapkali mengusung isu terjalinnya kerjasama antara pusat-pusat nasional di bidang perpustakaan Indonesia dalam karya tulis beliau.    Berikut ini cuplikan dari sebagian pemikiran Luwarsih Pringgoadisurjo:
 
Sistem jaringan perpustakaan dan dokumentasi
  • “Kita tentu sepakat bahwa dalam semua tingkat pembangunan pengembangan dan semua golongan dan lapisan masyarakat berhak memperoleh informasi yang diperlukan.  Namun dalam kenyataan usaha-usaha mencapai mekanisme penyampaian informasi secara efisien dan merata masih belum tercapai.”
  • “Mengingat betapa besarnya dan aneka ragamnya kepentingan masyarakat pemakai informasi, ditambah lagi luasnya wilayah Indonesia dan besarnya penduduk, sudah sepantasnya diperlukan perencanaan yang baik kalau kita ingin merealisasikan pemerataan layanan inforamsi.  Usaha-usaha sudah cukup banyak. Kelemahannya ialah bahwa sampai waktu ini kebijaksanaan dan usaha penangannya belum dilaksanakan secara terpadu."
  • “Tugas ini jelas tidak mudah di sini karena tugas penyediaan informasi bukan merupakan monopoli dari suatu instansi, tetapi dilakukan oleh banyak instansi yang  secara administratif masing-masing berdiri sendiri.  Untuk menangani persoalan ini diperlukan beberapa ahli yang kuat dan berwibawa yang mampu mengemban tugas-tugas koordinasi untuk kepentingan pemerataan pelayanan. Pengertian koordinasi perlu digaris bawahi di sini dan supaya tidak disama artikan dengan membawahi secara administratif. Yang sangat diperlukan ialah perubahan sikap dan peremajaan pandangan perihal kebijaksanaan sistem nasional bidang perpustakaan dokumentasi dan informasi. Sampai saai ini masih terlalu sering kita lihat perpustakaan-perpustakaan atau pusat-pusat dalam menjalankan tugasnya berdiri sebagai pulau-pulau dalam isolasi, tanpa menginsafi bahwa tiap program sebenarnya merupakan simpul (node) yang terus berkembang dan perlu dikaitkan denganlain-lain simpul yang ada. Yang perlu kita bina ialah mekanisme sistem pelayanan informasi yang merata menjangkau kepentingan semua lapisan masyarakat."
Kerja sama pusat-pusat nasional
  • “Sejak 1971 sebagai hasil Workshop Sistem Jaringan Informasi & Dokumentasi telah diperoleh kesepakatan bentuk pusat-pusat dengan tugas nasional, y.i PDIN-LIPI untuk bidang ilmu dan teknologi, Bibliotheca Bogoriences, Departemen Pertanian untuk bidang biologidan pertanian, Perpustakaan Pusat Departemen Kesehatan untuk bidang kesehatan dan kedokteran, sedang bidang-bidang ilmu sosial dan kemanusiaan diusulkan untuk untuk dicakup oleh Perpustakaan Museum Pusat, Departemen P & K. Setelah menunggu sekian lamanya, yang tsb akhir ini pada tahun 1980 telah diangkat menjadi Perpustakaan Nasional” 
  • “Keadaan pusat-pusat tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan masing-masing Departermen. Bibliotheca Bogoriensis untuk beberapa tahun mengalami waktu yang tidak menentu sehingga sangat merugikan bagi pemakai informasi bidang biologi dan pertanian.  ...  PDIN pun tidak luput dari masalah-masalah sebagai akibat dari tidak jelasnya kebijaksanaan pembangunan tugas antara perpustakaan-perpustakaan. Tugas-tugas tambahan melayani masyarakat pada umumnya, bahkan terpaksa membuka diri untuk anak sekolah dan mahasiswa, menyebabkan kurangnya konsentrasi untuk kepentingan jasa ilmuwan dan teknolog”.
Perpustakaan IPTEK
  • Kelemahan dalam koleksi maupun jasa di perpustakaan IPTEK pada umumnya, perlu segera diperbaiki untuk mendukung program pendidikan , pengajaran riset dan pengembangan.
  • Ilmuan dan peneliti sebagai pemakai informsi belum menyuarakan secara tegas jenis jasa yang diperlukan untuk mendukung tugas mereka.
  • Komunikasi yang akrab antara petugas dan pemakai informasi perlu untuk membina saling saling pengertian mengenai kebutuhan tersedianya jasa.
  • Masih banyak diperlukan tenaga inti pustakawan dengan pandangan-pandangan baru akan ruang lingkup  tugas perpustakaan dan informasi IPTEK.
Gagasan, keprihatinan, dan usulan perbaikan dari Luwarsih Pringgoadisurjo tentang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi di Indonesia, yang beliau cetuskan pada tahun 70-an sampai menjelang akhir hayat beliau, nampaknya masih terjadi di Indonesia sampai sekarang. Misalnya Luwarsih mengusulkan agar jasa perpustakaan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat Indonesia, namun beliau juga sadar bahwa untuk merealisasikan terwujudnya hal itu besar tantangannya seperti luasnya jangkauan area penyediaan jasa perpustakaan di Indonesia. Tantangan besar lainnya adalah sistem birokrasi lembaga pemerintah Indonesia.
 
Sampai saat ini walau dunia perpustakaan Indonesia telah mengaplikasikan dan mendayagunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang canggih di perpustakaan, masalah dan tantangan seputar isu  kolaborasi antar perpustakaan atau tersedianya sumber informasi yang merata bagi masyarakat Indonesia, layanan perpustakaan yang merata bagi semua lapisan masyarakat Indonesia, masih menjadi topik yang masih belum sepenuhnya terselesaikan.
 
Dalam “Grand design reformasi birokrasi: 2010-2025”  disebutkan bahwa  lembaga pemerintah diharapkan dapat mewujudkan pelayanan publik yang sesuai dengan harapan masyarakat. Harapan ini diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, Pasal 12, butir d,  bahwa lembaga pemerintah diharapkan dapat “memberikan akses yang lebih luas kepada Masyarakat untuk memperoleh pelayanan”. 
 
Dari kedua dokumen pemerintah ini,  seyogyanya layanan perpustakaan di  Indonesia dapat memberikan layanan yang memenuhi kebutuhan masyarakat dengan meminimalkan administrasi birokrasi bagi masyarakat yang memerlukan sumber informasi. Semoga akan muncul generasi penerus Ibu Luwarsih Pringgoadisurjo di  “zaman now” yang akan meneruskan tongkat estafet kepedulian Ibu Luwarsih dan para tokoh pionir pustakawan Indonesia lainnya, untuk membangun perpustakaan Indonesia yang mengedepankan layanan prima bagi semua anggota masyarakat Indonesia, di manapun ia berada.
 
Daftar Referensi
  1. Berita MIPI. Tahun ke III, No. 2,  Djuni 1959.  Hal. 25-27
  2. Laporan Tahunan PDIN,  Tahun 1975 sampai dengan 1985
  3. “Luwarsih Pringgoadisurjo”.  Artikel dikirim oleh 7460036 pada 19 Juni 2012 – 1:10 am. Dalam Tokoh Perpustakaan.   http://digilib.undip.ac.id/v2/2012/06/19/luwarsih-pringgoadisurjo/
  4. Peabody Pillar 1960.  p 135, 138, 240
  5. Rimbarawa, Kosam. Kerjasama jaringan perpustakaan dan akses informasi:  Kumpulan karya tulis Luwarsih Pringgoadisurjo. Jakarta: PDII-LIPI, 1995. 166 hal
  6. Riwayat Hidup Luwarsih Pringgoadisurjo.   Arsip Karyawan PDII-LIPI
  7. Sudarsono,  Blasius.  Pesan Penuntun Perjalanan Yang Masih Terekam. Dalam Facebook Blasius Sudarsono. 4 Juli 2017
File Download: 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.