Skip to content Skip to navigation

Ramadan Sebagai Bulan Literasi

Oleh: Moh. Mursyid
 
Tidak berlebihan kiranya jika Ramadan disebut sebagai bulan literasi. Minimal ada dua hal yang mendasari mengapa bulan Ramadan disebut sebagai bulan literasi. Pertama, di bulan Ramadhan umat Islam memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an) di mana wahyu pertama kali yang diterima oleh Nabi Muhammad saat itu adalah surat al-‘Alaq 1-5. Dalam surat tersebut terdapat pesan untuk membaca (iqra’) dan menulis yang dilambangkan dengan pena (qalam). Kedua, di bulan Ramadan, setelah umat Islam mengalami kemenangan dalam perang Badr, Nabi Muhammad SAW membuat kebijakan revolusioner dengan memerintahkan tawanan perang untuk mengajari umat Islam membaca dan menulis sebagai syarat kebebasan. Dari sini lah kemudian banyak umat Islam yang bisa membaca dan menulis. Salah satunya adalah Zaid bin Tsabit yang ditunjuk sebagai sekretaris wahyu.
 
Berkaca dari dua hal tersebut, dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW memegang teguh ajaran iqra’. Telah terbukti dengan adanya ajaran iqra’ mampu membawa umat Islam dari jurang kebodohan (jahiliyah) menuju kehidupan yang beradab dan berpengetahuan tinggi. Untuk itu, kiranya sangat tepat jika di bulan Ramadhan ini menjadi momentum, selain untuk membersihkan diri (tazkiyah al-nafs), juga untuk kembali menyemarakkan budaya literasi di kalangan masyarakat, terlebih umat Islam di Indonesia yang kini berada pada titik nadir.
 

Beragam survei menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menempati urutan terbawah dalam bidang literasi. Berdasarkan studi "Most Literated Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61) (Kompas, 29/08/2016).

Tentu hal ini menjadi ironi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Islam terbanyak yang memiliki risalah keagamaan untuk membaca dan menulis, Indonesia justru tidak mampu tampil sebagai negara yang memiliki budaya literasi tinggi. Bagaimanapun, budaya literasi menjadi sebuah keharusan bagi seorang muslim. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa pada masa Bani Abbasiyah, peradaban Islam begitu maju. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan mampu memunculkan sosok ilmuan muslim yang sangat luar biasa. Literasi menjadi kunci semua itu. Mereka tidak sekadar membaca teks dan konteks tetapi juga menuliskannya secara empiris. Alhasil, pemikirannya hingga kini masih dikenal luas oleh dunia.

Geliat Literasi

Semarak bulan Ramadan selalu membawa nuansa istimewa. Di bulan suci ini sebenarnya umat Islam di Indonesia dalam kondisi puncak dalam ber-literasi, baik secara tekstual maupun kontekstual. Pertama, literasi tekstual. Di bulan ini, umat Islam mulai memiliki kesadaran untuk banyak membaca. Mulai dari membaca Al-Qur’an hingga beragam majlis ta'lim dan kajian diadakan di mana-mana. Pengajian kitab diadakan oleh para kyai dan ustadz di masjid dan pondok pesantren. Kitab yang dikaji pun sangat beragam, mulai dari kitab Tafsir, Fiqh, dan Tasawuf dengan judul yang berbeda-beda.

Kedua, literasi kontekstual. Pada bulan puasa, umat Islam tidak hanya membaca teks saja, tetapi juga membaca fenomena dan realita sosial (kontekstual) dengan beragam dinamika kehidupan yang tidak pernah selesai. Literasi kontekstual dapat dipahami sebagai kegiatan membaca ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis. Salah satu wujud literasi kontekstual yang paling mudah dilihat adalah adanya rasa kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama. Di bulan Ramadan banyak kita jumpai kegiatan bakti sosial, sedekah, infak dan zakat dengan tujuan untuk meringankan beban sesamanya yang kurang mampu.

Sungguh kedua hal di atas adalah fenomena literasi yang sulit ditemui selain di bulan Ramadan. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menyeimbangkan literasi tekstual dan kontekstual. Dengan adanya semangat literasi di bulan Ramadan ini nantinya tidak hanya mampu membentuk kesalehan pribadi tetapi juga kesalehan sosial.

Akhirnya, kita semua tentu berharap semoga geliat literasi yang begitu luar biasa ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan saja. Dibutuhkan kontribusi dari berbagai pihak untuk saling membahu dan menyemarakkan budaya literasi di Indonesia. Mulai dari pemuka agama, pemerintah, maupun masyarakat secara umum. Semuanya harus berjibaku untuk kembali menegakkan budaya literasi. Kita bisa membayangkan betapa indahnya jika kondisi literasi di Indonesia di esok hari sebagaimana geliat literasi yang ada di setiap bulan Ramadhan. Hampir setiap hari dan setiap saat orang membaca tanpa melupakan kondisi sosial di sekitarnya.[]

 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.